Sisi Kelam Pembukaan Piala Dunia 2026: Diwarnai Demo, Bom Molotov, dan Baku Hantam di Luar Stadion Azteca

Sisi Kelam Pembukaan Piala Dunia 2026: Diwarnai Demo, Bom Molotov, dan Baku Hantam di Luar Stadion Azteca
Petugas kepolisian berjaga di luar stadion saat pertandingan pembuka Piala Dunia FIFA 2026 di Mexico City, Jumat, 12 Juni 2026. (c) AP Photo/Alejandro Cegarra

Bola.net - Bentrokan antara aparat kepolisian dan kelompok demonstran terjadi di luar Stadion Azteca, Meksiko City, beberapa saat sebelum laga pembuka Piala Dunia 2026 digelar pada Jumat (12/6/2026) dini hari WIB. Insiden ini langsung mencuri perhatian di tengah euforia hari pertama turnamen yang seharusnya berlangsung meriah.

Kericuhan bermula ketika sekelompok orang berpenutup wajah melempar batu, botol, hingga bom molotov ke arah petugas. Mereka mencoba menerobos pintu delapan stadion, dan situasi dengan cepat berubah kacau. Sejumlah polisi dilaporkan mengalami luka dan harus mendapat perawatan medis.

Kondisi di sekitar perimeter stadion sempat memunculkan kekhawatiran adanya penundaan laga Meksiko melawan Afrika Selatan. Namun aparat keamanan bergerak cepat mengendalikan situasi, sehingga kick-off tetap berjalan sesuai jadwal dan mayoritas penonton tetap bisa masuk ke tribun berkapasitas 82 ribu orang itu.

Meski pertandingan akhirnya tetap berlangsung, insiden di luar stadion meninggalkan catatan kelam di hari pembuka turnamen. Aparat kemudian memperketat pengamanan di seluruh area ring satu untuk mencegah kemungkinan gangguan susulan.

1 dari 3 halaman

Kerusuhan Pintu Gerbang dan Respons Kepolisian

Petugas kepolisian menghadang demonstran di Meksiko yang berusaha mendekati stadion saat pertandingan pembuka Piala Dunia FIFA 2026 di Mexico City, 12 Juni 2026. (c) AP Photo/Alejandro Cegarra

Petugas kepolisian menghadang demonstran di Meksiko yang berusaha mendekati stadion saat pertandingan pembuka Piala Dunia FIFA 2026 di Mexico City, 12 Juni 2026. (c) AP Photo/Alejandro Cegarra

Pengamanan di sekitar stadion langsung ditingkatkan setelah massa tanpa tiket mulai bertindak agresif di beberapa titik akses. Sekretariat Keamanan Warga Meksiko City (SSC CDMX) kemudian menurunkan tambahan pasukan untuk membantu mengendalikan situasi.

Puluhan orang ditangkap di lokasi karena aksi vandalisme yang dianggap membahayakan keselamatan publik. Namun, ada pula beberapa yang kemudian dilepaskan setelah kondisi kembali stabil, termasuk seorang perempuan berusia 28 tahun.

"Hampir 200 orang berpenutup wajah memisahkan diri dari sekitar 800 demonstran. Situasi akhirnya bisa dikendalikan oleh polisi metropolitan," ujar juru bicara SSC CDMX.

Langkah cepat aparat disebut berhasil mencegah eskalasi yang lebih besar di area gerbang stadion, yang saat itu menjadi titik paling rawan.

2 dari 3 halaman

Tuntutan Serikat Guru dan Isu Sosial Nasional

Gelombang protes ini sebenarnya sudah berlangsung sekitar sepuluh hari di Meksiko City. Aksi tersebut dipimpin oleh Coordinadora Nacional de Trabajadores de la Educacion (CNTE), kelompok guru yang selama ini dikenal vokal dalam isu ketenagakerjaan.

Mereka menuntut kenaikan upah hingga 100 persen serta pencabutan Undang-Undang ISSSTE 2007 terkait reformasi sistem pensiun di bawah pemerintahan Presiden Claudia Sheinbaum. Dampaknya cukup luas, dengan lebih dari satu juta siswa dilaporkan terdampak akibat mogok nasional.

Ketegangan tidak berhenti di situ. Keluarga dari sekitar 130 ribu orang hilang akibat kekerasan di Meksiko juga ikut turun ke jalan. Mereka bergabung dalam aksi bersama para guru, membawa poster yang menyerukan agar FIFA mempertimbangkan kembali penyelenggaraan turnamen di negara tersebut.

Situasi ini menambah panjang daftar tantangan keamanan domestik, setelah sebelumnya negara itu juga dilanda ketegangan akibat operasi militer terhadap gembong kartel narkoba Nemesio Rubén Oseguera Cervantes di wilayah dekat Guadalajara pada Februari lalu.

3 dari 3 halaman

Dampak di Mexico City

Pemerintah sebenarnya sudah mengantisipasi potensi gangguan dengan meliburkan sekolah-sekolah di ibu kota pada hari pertandingan. Namun, penutupan sejumlah stasiun Metro Meksiko City tetap terjadi setelah massa mulai bergerak di jalur transportasi utama.

Di sisi lain, insiden di fan zone Alun-alun Zocalo berhasil dikendalikan lebih cepat sehingga kegiatan nonton bareng tetap berlangsung seperti rencana awal. Situasi perlahan kembali stabil menjelang pertandingan dimulai.

Di dalam stadion, Meksiko menutup hari dengan kemenangan 2-0 atas Afrika Selatan. Gol dicetak oleh Julián Quiñones dan Raúl Jiménez dalam laga yang berlangsung keras dan diwarnai tiga kartu merah.

Tiga poin ini menjadi awal yang penting bagi El Tri di Grup A, meski kemenangan tersebut sedikit tertutup oleh ketegangan di luar stadion. Euforia di dalam lapangan pun terasa tidak sepenuhnya lepas dari bayang-bayang situasi sosial di kota.


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL