
Bola.net - Sepak bola Eropa kembali terseret ke isu lama yang tak kunjung tuntas, pelecehan rasial. Laga Liga Champions antara Real Madrid dan Benfica di Lisbon harus dihentikan selama 10 menit setelah Vinicius Jr melaporkan dugaan pelecehan rasis.
Ironisnya, insiden itu terjadi tak lama setelah Vinicius mencetak gol luar biasa yang seharusnya menjadi pusat perhatian. Alih-alih merayakan mahakarya di lapangan, sorotan kembali tertuju pada persoalan diskriminasi yang terus menghantui sang winger Brasil.
Bagi Vinicius, ini bukan pengalaman baru. Tuduhan di Estadio da Luz tercatat sebagai insiden ke-20 sepanjang delapan tahun kariernya bersama Real Madrid, menegaskan betapa panjang dan berat perjuangan yang ia jalani.
Insiden di Lisbon yang Menghentikan Laga

Pertandingan play-off Liga Champions di Estadio da Luz sempat terhenti setelah Vinicius melaporkan adanya ucapan rasis dari tribun.
Jurnalis sepak bola Spanyol Guillem Balague, yang berada langsung di stadion, menyebut situasi itu memaksa wasit menghentikan laga demi menjalankan protokol anti-diskriminasi.
Tuduhan terbaru mengarah kepada gelandang Benfica asal Argentina, Gianluca Prestianni, yang disebut melontarkan ujaran rasis beberapa menit setelah Vinicius mencetak gol spektakuler. Prestianni membantah keras tudingan tersebut, sementara proses klarifikasi masih berlangsung.
Di kubu Real Madrid, dukungan datang dari rekan-rekan setim. Salah satu yang paling vokal adalah Kylian Mbappe, yang mengaku mendengar istilah rasis diucapkan hingga lima kali selama insiden itu terjadi.
Reaksi Kontroversial dan Perdebatan Lama

Usai laga, komentar pelatih Benfica Jose Mourinho memicu polemik baru. Ia menilai Vinicius seharusnya merayakan gol dengan lebih “hormat” dan menyiratkan bahwa sikap sang pemain ikut memanaskan situasi.
Pernyataan tersebut dianggap banyak pihak sebagai bentuk menyalahkan korban. Mourinho bahkan menegaskan bahwa Benfica tidak mungkin rasis dengan alasan legenda klub mereka, Eusebio, adalah pemain kulit hitam.
Pandangan semacam ini mencerminkan pola lama dalam perdebatan publik di Spanyol dan Portugal: rasisme diakui ada, tetapi reaksi korban justru dipersoalkan.
Narasi “ia dihina, tapi seharusnya bersikap lebih baik” terus berulang, seolah pelecehan dan respons emosional dapat dipisahkan.
Dua Puluh Insiden, Nama dan Putusan Nyata
Menurut catatan Balague, permusuhan terhadap Vinicius bukan sekadar persepsi. Ada nama, tanggal, dan bahkan vonis pengadilan. Sejak bergabung dengan Real Madrid, ia telah mengalami pelecehan di berbagai stadion Spanyol.
Kasus-kasus itu mencakup teriakan rasis di Camp Nou pada 2021 yang ditutup karena pelaku tak teridentifikasi, ejekan bernada monyet di Mallorca pada 2022, hingga boneka berjersey Vinicius yang digantung di sebuah jembatan pada Januari 2023.
Dalam kasus terakhir, empat anggota kelompok suporter dijatuhi hukuman penjara yang kemudian dikonversi menjadi denda dan larangan mendekat ke stadion.
Titik balik terjadi di Mestalla, Valencia, pada Mei 2023. Setelah Vinicius melawan hinaan dari tribun, insiden itu berujung hukuman penjara bagi tiga pelaku pada 2024.
Vonis tersebut menjadi yang pertama di Spanyol terkait rasisme di stadion, sebuah preseden penting dalam sejarah sepak bola negara itu.
Dari Korban Menjadi Simbol Perlawanan
Pelecehan rasial terhadap Vinicius bahkan tak selalu terjadi saat ia bermain. Nyanyian bernada kebencian muncul di laga Atletico Madrid vs Inter, serta teriakan “Vinicius mati” di kandang Osasuna.
Media sosial pun menjadi medan lain, dengan penangkapan empat orang pada September 2024 karena menghasut kampanye kebencian daring.
Dalam situasi berulang ini, Vinicius menolak diam. Ia terus menekan otoritas sepak bola, termasuk La Liga, agar memperketat protokol dan sanksi. Setiap laporan, setiap protes, ia jadikan bagian dari perjuangan yang lebih luas.
Setelah vonis penjara bagi pelaku di Valencia, Vinicius menjelaskan alasannya tetap melawan. Ia mengatakan banyak orang memintanya mengabaikan rasisme atau sekadar fokus bermain.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
8 Tahun dan 20 Kasus Rasisme: Vinicius Junior Tak Selalu Bahagia di Real Madrid
Liga Spanyol 19 Februari 2026, 11:17
-
Insiden Rasisme dalam Laga Benfica vs Madrid: Vinicius Junior Jadi Korban
Liga Champions 18 Februari 2026, 13:32
LATEST UPDATE
-
Prediksi Juventus vs Napoli 2 November 2026
Liga Italia 31 Oktober 2026, 14:16
-
Prediksi Liverpool vs Arsenal 1 November 2026
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 13:08
-
Prediksi Racing Santander vs Madrid 1 November 2026
Liga Spanyol 31 Oktober 2026, 12:03
-
Prediksi Lazio vs Cagliari 1 November 2026
Liga Italia 31 Oktober 2026, 11:23
-
Prediksi Como vs Venezia 1 November 2026
Liga Italia 31 Oktober 2026, 11:16
-
Hasil Kualifikasi MotoGP Malaysia 2026: Alex Marquez Pole, Marc Marquez Kedua
Otomotif 31 Oktober 2026, 10:47
-
Jadwal Lengkap MotoGP Malaysia 2026 di Sepang, 30 Oktober - 1 November 2026
Otomotif 31 Oktober 2026, 10:32
-
Jadwal Liga Inggris di SCTV Pekan Ini, 31 Oktober - 3 November 2026
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 10:30
-
RESMI: Jorge Martin Mundur dari MotoGP Malaysia 2026
Otomotif 31 Oktober 2026, 10:27
-
Live Streaming Dewa United vs Persija Jakarta: Jadwal dan Link Nonton
Bola Indonesia 31 Oktober 2026, 10:25
-
Live Streaming Arema FC vs Bali United: Jadwal dan Link Nonton
Bola Indonesia 31 Oktober 2026, 10:21
-
Live Streaming Persik vs Persita: Jadwal dan Link Nonton
Bola Indonesia 31 Oktober 2026, 10:16
-
Live Streaming PSM Makssar vs Madura United: Jadwal dan Link Nonton
Bola Indonesia 31 Oktober 2026, 10:12
-
AC Milan vs Inter Milan: 10 Fakta Menarik Jelang Derby della Madonnina
Liga Italia 31 Oktober 2026, 07:50
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18























KOMENTAR