
Bola.net - Real Madrid menjadi perhatian setelah tiga hasil imbang beruntun di La Liga membuat mereka tergeser dari puncak klasemen. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran, bukan hanya karena kehilangan poin, tetapi juga karena pola permainan mereka menunjukkan penurunan yang konsisten. Real Madrid sempat tampil meyakinkan pada awal November, tetapi performa itu kini terasa jauh tertinggal.
Kemenangan 4-0 atas Valencia di Santiago Bernabeu sempat dianggap sebagai momentum kebangkitan, terlebih setelah kemenangan di El Clasico. Namun, setelah jeda internasional, level permainan mereka kembali merosot. Bahkan kemenangan di Liga Champions melawan Olympiacos tidak memberikan gambaran akurat mengenai kekuatan mereka saat ini. Real Madrid sedang berada dalam fase yang membuat tim versi awal musim seolah hanya tinggal kenangan.
Kekalahan dari Liverpool di Anfield mungkin sempat dilihat sebagai bukti bahwa Real Madrid masih bermasalah ketika menghadapi laga-laga besar. Akan tetapi perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa persoalan mereka jauh lebih luas. Ini bukan lagi masalah laga besar semata, melainkan problem struktural yang menyeret performa mereka secara keseluruhan.
Masalah Real Madrid Lebih Besar dari Sekadar Laga Besar

Real Madrid sempat menampilkan kilasan permainan terbaiknya ketika menang atas Olympiacos di Yunani. Dalam periode tertentu, mereka bermain lebih bebas dan cepat, sementara Kylian Mbappe mencetak empat gol yang membuat perjalanan pulang terasa nyaman. Akan tetapi, kemenangan itu menyisakan banyak catatan penting. Gejolak internal antara Vinicius Junior dan Xabi Alonso dikabarkan sedang renggang sehingga hasil positif tersebut hanya menjadi jeda singkat dari tekanan.
Selain itu, lawan yang mereka hadapi pun tidak menjadi indikator yang ideal. Olympiacos berada di posisi 33 dari 36 peserta fase grup Liga Champions, dengan hanya lima gol dari lima laga – tiga di antaranya justru dicetak ke gawang Madrid. Tingginya garis pertahanan Jose Luis Mendilibar juga membuat Madrid terlalu mudah memanfaatkan ruang dalam transisi. Dengan kata lain, kemenangan itu tidak menutupi rapuhnya lini belakang Madrid, terutama di tengah badai cedera dan penurunan performa pemain belakang.
Bahkan ketika Eder Militao dan Antonio Rudiger kembali saat menghadapi Girona, kondisi pertahanan Madrid tetap rapuh. Mereka selamat dari kekalahan hanya berkat performa luar biasa Thibaut Courtois. Pertandingan yang berkesudahan 1-1 tersebut sangat mungkin berakhir 3-1 untuk kemenangan Girona apabila bukan karena penyelamatan krusial sang kiper.
Data yang Menggambarkan Krisis Struktural Real Madrid

Sejak kemenangan atas Valencia, angka-angka yang tercatat menunjukkan betapa dalamnya masalah Real Madrid. Dalam lima laga, mereka telah kebobolan tujuh gol dari total 73 tembakan yang dilepas lawan, dengan 29 di antaranya tepat sasaran. Expected goals against (xGA) mereka mencapai 7,61 – angka yang menunjukkan kualitas peluang lawan tergolong tinggi. Sebagai perbandingan, butuh sepuluh pertandingan pada awal musim bagi Madrid untuk menerima 29 tembakan tepat sasaran, padahal rentang tersebut mencakup kekalahan berat di derby melawan Atletico Madrid.
Tren negatif ini tidak lagi bisa dianggap sebagai anomali. Ini adalah pola berulang yang memperlihatkan masalah struktural dalam organisasi pertahanan, stabilitas taktik, serta kepercayaan diri pemain. Bukan soal siapa lawannya atau siapa yang bermain; masalah ini muncul berulang terlepas dari kualitas tim yang mereka hadapi.
Real Madrid pernah terlihat solid dan dominan pada periode awal musim. Namun, dalam kondisi sekarang, mereka kehilangan bentuk permainan, konsistensi, dan identitas. Jika Xabi Alonso tidak segera menemukan solusi, musim yang semula tampak menjanjikan bisa berubah menjadi rangkaian masalah yang lebih rumit bagi Los Blancos.
Sumber: Managing Madrid
Klasemen
Baca Artikel-artikel Menarik Lainnya:
- Barcelona Ragu Permanenkan Marcus Rashford: Dampak Raphinha dan Evaluasi Rp500-an Miliar
- Barcelona yang Rentan di Babak Pertama: Titik Lemah yang Harus Segera Dihilangkan
- Debut 'Ndredheg' Kiper Ketiga PSIM Yogyakarta di BRI Super League 2025/26
- Scott McTominay Dinobatkan Pemain Terbaik Serie A 2025: Inilah Para Jawaranya
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Hasil Inter vs Pisa: Sempat Tertinggal Dua Gol, Nerazzurri Hancurkan Lawan 6-2
Liga Italia 24 Januari 2026, 07:56
-
Diterpa Masalah Cedera, Liverpool Justru Tenang di Bursa Transfer Januari 2026?
Liga Inggris 24 Januari 2026, 04:15
-
Peringatan Capello: 2 Laga Ini Bisa Tentukan Nasib Scudetto Milan
Liga Italia 24 Januari 2026, 03:47
-
Capello Buka Alasan Allegri Ogah Bahas Scudetto Meski AC Milan Tampil Solid
Liga Italia 24 Januari 2026, 01:19
-
Prediksi Roma vs Milan 26 Januari 2026
Liga Italia 23 Januari 2026, 23:29
-
Prediksi Juventus vs Napoli 26 Januari 2026
Liga Italia 23 Januari 2026, 23:08
-
Prediksi Arsenal vs Man United 25 Januari 2026
Liga Inggris 23 Januari 2026, 22:12
-
Proliga 2026: Kalahkan Medan Falcons, Livin Mandiri Raih Kemenangan Perdana
Voli 23 Januari 2026, 21:59
-
Prediksi Barcelona vs Oviedo 25 Januari 2026
Liga Spanyol 23 Januari 2026, 21:55
-
Prediksi Crystal Palace vs Chelsea 25 Januari 2026
Liga Inggris 23 Januari 2026, 20:48
-
Liverpool Mengintai, Thomas Frank Tegaskan Micky van de Ven Milik Tottenham
Liga Inggris 23 Januari 2026, 20:24
LATEST EDITORIAL
-
5 Bintang Manchester United yang Bisa Bersinar di Bawah Michael Carrick
Editorial 23 Januari 2026, 06:04
-
9 Pemain yang Pernah Bermain untuk Inter Milan dan Arsenal
Editorial 20 Januari 2026, 14:06
-
6 Bek Tengah yang Bisa Datangkan Liverpool Setelah Kehilangan Marc Guehi
Editorial 20 Januari 2026, 13:05
-
5 Pemain Liverpool yang Bisa Ikuti Jurgen Klopp ke Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:24
-
4 Bek Tengah yang Bisa Jadi Target Chelsea di Bursa Januari: Ada Eks Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:06

























KOMENTAR