
Bola.net - Liverpool kembali menampilkan wajah yang sudah akrab bagi publik Premier League, yaitu drama di menit-menit akhir. Kemenangan tipis atas Nottingham Forest (1-0) diraih lewat gol penentuan yang datang nyaris di detik terakhir pertandingan.
Bagi sebagian pihak, momen tersebut mencerminkan mentalitas pantang menyerah yang telah lama melekat pada klub. Namun di balik euforia, terselip kegelisahan tentang kemampuan Liverpool mengontrol pertandingan.
Musim ini, ketergantungan pada gol telat tidak selalu berbuah manis. Bahkan, kecenderungan tersebut justru ikut membentuk musim yang berjalan tidak sesuai rencana.
Gol Mac Allister dan Evaluasi Jujur Slot

Gol kemenangan Liverpool dicetak Alexis Mac Allister pada menit ke-97 saat menghadapi Nottingham Forest di City Ground. Gol itu memastikan kemenangan 1-0 yang krusial, tetapi juga memperpanjang pola laga dramatis musim ini.
Menurut catatan kompetisi, tujuh dari 27 pertandingan liga Liverpool musim 2025-26 ditentukan oleh gol kemenangan setelah menit ke-90. Jumlah tersebut menjadi yang terbanyak dalam satu musim dalam sejarah Premier League.
Pelatih Arne Slot memberikan penilaian yang jujur seusai laga. Ia mengakui performa timnya, khususnya di babak pertama, jauh dari standar terbaik.
“Emosi saya adalah perasaan bahagia dan lega. Hari ini kami tidak memainkan pertandingan yang bagus," ungkap Slot.
"Performa kami, terutama di babak pertama, tidak seperti yang sudah sering kami tunjukkan musim ini. Kami terlalu sering berada di sisi yang salah dari skor setelah tampil bagus."
"Hari ini, saya pikir kami mendapatkan lebih dari yang pantas kami dapatkan. Hasil imbang akan lebih adil dibandingkan kemenangan bagi kami," imbuhnya.
Mentalitas Lama dan Risiko yang Mengiringi

Kecenderungan Liverpool mencetak gol telat bukan hal baru. Klub ini telah mengoleksi 48 gol kemenangan setelah menit ke-90 di Premier League, setidaknya 12 lebih banyak dari tim mana pun di kompetisi tersebut.
Ciri tersebut identik dengan era Jurgen Klopp, yang pernah menyebut timnya sebagai “mentalitas monster” usai comeback telat melawan Southampton pada 2019. Julukan itu kemudian melekat sebagai simbol daya juang Liverpool.
Kapten Virgil van Dijk juga menegaskan pentingnya mentalitas tersebut usai laga melawan Forest, terutama setelah gol Mac Allister sempat dianulir karena handball.
“Saya sepenuhnya setuju bahwa kami menunjukkan mentalitas yang kuat, karena ketika gol dianulir, momentum bisa berubah dan para pendukung Forest benar-benar berada di belakang tim mereka," kata Van Dijk.
"Namun, saya pikir kami melakukannya dengan baik; kami menciptakan kekacauan dari situasi lemparan ke dalam dan berhasil mencetak gol penentu."
"Ketahanan kami memang sempat dipertanyakan musim ini, tetapi hari ini dan beberapa laga terakhir, kami menunjukkan konsistensi dalam apa yang kami lakukan," lanjutnya.
Sisi Gelap Drama Menit Akhir Liverpool
Di balik pujian atas daya juang, Liverpool juga kerap menjadi korban drama serupa. Mereka telah kebobolan empat gol penentuan di masa injury time musim ini, jumlah terbanyak bersama dalam satu musim liga.
Salah satu momen paling menyakitkan terjadi saat Manchester City mencuri kemenangan 2-1 di Anfield melalui penalti menit ke-93 dari Erling Haaland. Liverpool juga kehilangan poin penting di kandang Leeds United dan Fulham.
Total delapan poin terbuang di masa tambahan waktu menjadi yang terbanyak di liga musim ini, sebuah angka yang signifikan dalam perebutan tiket UEFA Champions League.
Slot menegaskan sulit menunjuk satu penyebab utama dari masalah tersebut. Ia melihat adanya progres dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, meski hal itu belum tercermin di klasemen.
“Jika dibandingkan tiga atau empat bulan lalu, Anda bisa melihat banyak peningkatan, tetapi masalahnya adalah peningkatan itu tidak terlihat di klasemen liga, dan itu selalu menjadi cerminan paling penting.”
Investasi Besar, Dampak Terbatas
Musim lalu pun Liverpool jarang menang dengan margin besar. Hanya tujuh dari 20 laga terakhir musim 2024-25 yang dimenangkan dengan selisih dua gol atau lebih.
Keinginan untuk tampil lebih dominan menjadi salah satu alasan di balik belanja besar mendekati 450 juta pounds pada musim panas lalu. Namun, investasi tersebut belum sepenuhnya membuahkan hasil.
Cedera serius yang menimpa Alexander Isak, Jeremie Frimpong, dan Giovanni Leoni membatasi kontribusi pemain baru. Sementara itu, gelandang bintang Florian Wirtz masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan kerasnya Premier League.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Drama Menit Akhir Liverpool Kembali Terjadi, Slot Akui Timnya Tak Pantas Menang?
Liga Inggris 24 Februari 2026, 23:10
-
Dominik Szoboszlai, Bintang Utama Liverpool yang Harus Segera Kembali ke Posisinya
Liga Inggris 24 Februari 2026, 16:15
LATEST UPDATE
-
Benjamin Sesko Bongkar 'Rahasia' di Balik Ketajamannya Bersama Man United, Apa Itu?
Liga Inggris 25 Februari 2026, 00:17
-
Putra Michael Carrick Sempat Diusir Petugas Keamanan usai MU Tumbangkan Everton
Liga Inggris 25 Februari 2026, 00:05
-
Drama Menit Akhir Liverpool Kembali Terjadi, Slot Akui Timnya Tak Pantas Menang?
Liga Inggris 24 Februari 2026, 23:10
-
Viktor Gyokeres dan Respons Sempurna Arsenal
Liga Inggris 24 Februari 2026, 22:37
LATEST EDITORIAL
-
6 Pemain Arsenal yang Kontraknya Habis pada 2027, Siapa Bertahan dan Siapa Dijual?
Editorial 24 Februari 2026, 14:21
-
4 Rekrutan Gratis Manchester United, Adakah yang Benar-Benar Sukses?
Editorial 24 Februari 2026, 13:58
-
6 Calon Pengganti Casemiro di Manchester United: Siapa Pewaris Tahta Gelandang Bertahan?
Editorial 20 Februari 2026, 00:00
-
7 Pemain yang Tenggelam Usai Pindah Klub Musim 2025/2026: Masih Ingat Darwin Nunez?
Editorial 19 Februari 2026, 23:35


















KOMENTAR