
Bola.net - Pertandingan Serie A antara Juventus melawan AC Milan di Allianz Stadium akhir pekan kemarin berkesudahan tanpa gol, tetapi menyisakan banyak cerita di balik skor 0-0 tersebut. Kedua tim memang gagal menyuguhkan laga yang benar-benar menghibur, tapi Milan sebenarnya bisa saja pulang dengan tiga poin seandainya peluang-peluang emas mereka tak terbuang percuma.
Babak pertama berjalan hati-hati, dengan minim peluang berarti. Namun, intensitas meningkat di paruh kedua ketika Mike Maignan melakukan penyelamatan luar biasa untuk menepis sepakan jarak dekat Federico Gatti, dan Milan memperoleh peluang terbaik melalui penalti Christian Pulisic yang sayangnya melenceng dari sasaran. Rafael Leao pun tak kalah apes, gagal menuntaskan dua kesempatan yang seharusnya berbuah gol.
Meski begitu, hasil imbang ini memperpanjang catatan tak terkalahkan Milan sekaligus menambah daftar clean sheet mereka musim ini. Di sisi lain, posisi puncak klasemen sementara harus dilepaskan. Dari duel tanpa gol itu, ada lima hal yang bisa dipetik — tiga bernilai positif, dan dua menjadi catatan negatif.
Pertahanan Jadi Fondasi Kuat Milan
Barisan belakang AC Milan kembali menunjukkan ketangguhan yang membuat lawan frustrasi. Juventus nyaris tak punya ruang untuk menciptakan peluang bersih, kecuali satu momen ketika bola jatuh di kaki Federico Gatti, tetapi Mike Maignan menepisnya dengan refleks menakjubkan.
Itu menjadi clean sheet kelima dari enam pertandingan terakhir Milan, dengan satu-satunya gol yang bersarang datang dari penalti saat menghadapi Napoli. Artinya, mereka belum kebobolan dari open play selama lebih dari 540 menit.
Trio bek tengah bekerja efektif menutup ruang, sementara Alexis Saelemaekers dan Davide Bartesaghi di sisi sayap juga sukses menekan pergerakan Yildiz serta Conceicao. Sebuah performa defensif yang disiplin dan terorganisir — identitas yang kembali tampak dalam permainan Milan.
Dominasi Milan di Lini Tengah
Meski penguasaan bola berjalan relatif seimbang, Milan tampak lebih dominan di lini tengah. Kehadiran Luka Modric menjadi faktor pembeda. Pemain asal Kroasia itu kembali mendikte tempo permainan selama 90 menit penuh, dengan umpan panjang cermatnya kepada Santiago Gimenez yang berujung penalti.
Modric bahkan hampir mencatat assist andai Rafael Leao bisa lebih tenang dalam penyelesaian akhir. Di sisi lain, duet Adrien Rabiot dan Youssouf Fofana juga tampil solid. Rabiot mungkin tidak terlalu mencolok, tetapi kontribusinya dalam bertahan dan mengatur ritme tetap terasa.
Secara keseluruhan, sektor tengah Milan tampil lebih berpengaruh dibanding Juventus. Hanya saja, dominasi itu tak cukup untuk menghasilkan kemenangan.
Santiago Gimenez Mulai Tunjukkan Perkembangan
Santiago Gimenez memang belum menambah gol setelah menjebol gawang Lecce, tetapi performanya menunjukkan peningkatan signifikan. Ia tampil penuh percaya diri, berani menantang lini belakang Juventus, dan nyaris mencetak gol setelah melewati beberapa pemain sebelum tendangannya ditepis kiper.
Di babak kedua, penyerang asal Meksiko itu juga hampir mencetak gol lewat sundulan yang hanya melenceng tipis dari tiang gawang. Selain ancaman langsung, Gimenez juga aktif dalam pressing, rajin menahan bola, dan menjadi pemicu serangan lewat pergerakan cerdasnya.
Ia bahkan menjadi pemain yang memenangkan penalti untuk Milan. Allegri tampaknya mulai menaruh kepercayaan besar kepadanya, dan bila tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin gol-gol dari Gimenez akan segera mengalir.
Pulisic dan Masalah Penalti Milan
Christian Pulisic menjadi salah satu nama yang paling disorot setelah laga. Setelah tampil apik dalam beberapa pekan terakhir, kali ini ia gagal menunaikan tugas sebagai eksekutor penalti. Sepakannya melenceng jauh dari gawang, padahal peluang itu bisa menjadi kunci kemenangan Milan.
Meski begitu, reaksi Pulisic pasca-kegagalan cukup positif. Ia mencoba bangkit, menggiring bola melewati beberapa pemain Juventus, lalu melepaskan tembakan keras rendah yang masih mampu ditepis Di Gregorio. Kendati demikian, masalah di titik putih ini bukan hal baru bagi Milan.
Musim lalu saja, Milan gagal mengeksekusi empat penalti dari sembilan kesempatan. Kini, mereka kembali memulai musim dengan satu kegagalan dari satu percobaan — berarti tingkat keberhasilan hanya 50 persen dalam 10 penalti terakhir.
Secara individu, catatan Pulisic sejatinya baik: 13 penalti sukses dari total 15 percobaan sepanjang kariernya. Oleh karena itu, kegagalan kali ini lebih pantas disebut insiden tunggal ketimbang tren mengkhawatirkan.
Leao Belum Kembali ke Performa Terbaik
Rafael Leao masih mencari sentuhannya setelah absen akibat cedera. Masuk di babak kedua, pemain asal Portugal itu diharapkan menjadi pembeda. Namun, dua peluang emas yang ia miliki justru terbuang percuma.
Pertama, ia gagal menembak tepat sasaran dari jarak dekat. Sesudah itu, di kesempatan kedua, setelah pergerakan apik melewati bek Juventus, sepakan Leao mengarah tepat ke kiper.
Kualitasnya jelas tidak perlu diragukan, tetapi dalam laga seperti ini, pemain sekelas Leao diharapkan mampu mengonversi minimal satu peluang menjadi gol. Wajar bila publik menilai penampilannya kali ini mengecewakan. Meski baru pulih dan baru bermain sekitar 40 menit, ketajaman Leao masih belum kembali ke level terbaik.
Sumber: Sempre Milan
Klasemen
Baca Artikel-artikel Menarik Lainnya:
- Rafael Leao Masih Harus Bekerja Keras dan Banyak Belajar untuk Jadi Nomor 9 AC Milan
- UEFA Izinkan Villarreal vs Barcelona di Miami, Milan vs Como di Perth: Keputusan Bersejarah Sekaligus Peringatan
- Tensi Panas jelang Laga Italia vs Israel: Lebih Banyak Massa di Luar Stadion daripada di Dalam
- Daya Ledak Baru di Lini Depan yang Membuat Inter Milan Kini Menakutkan
- Revolusi Taktik Inter Milan: Tak Ada Lagi Build-up Bertele-tele yang Mudah Terbaca Lawan
- Hasil Tak Sepadan dengan Performa: Skor 0-0 Bukan Cerminan Upaya AC Milan
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Allegri Ungkap Kunci agar Rafael Leao Bisa Jadi Mesin Gol Baru AC Milan
Liga Italia 7 Oktober 2025, 21:49
-
Allegri Terharu di Allianz Stadium, tapi Ingatkan AC Milan Masih Punya PR Besar
Liga Italia 7 Oktober 2025, 20:56
-
Grande Partita yang Membosankan dan Keputusan Tudor yang Mengundang Tanda Tanya
Liga Italia 7 Oktober 2025, 13:36
LATEST UPDATE
-
Man of the Match Parma vs Inter: Federico Dimarco
Liga Italia 8 Januari 2026, 07:30
-
Man of the Match Man City vs Brighton: Erling Haaland
Liga Inggris 8 Januari 2026, 07:16
-
Man of the Match Barcelona vs Athletic Club: Raphinha
Liga Spanyol 8 Januari 2026, 07:04
-
Hasil Parma vs Inter: Chivu Taklukkan Mantan Klub, Nerazzurri Melesat di Puncak
Liga Italia 8 Januari 2026, 06:32
-
Man of the Match Burnley vs Manchester United: Benjamin Sesko
Liga Inggris 8 Januari 2026, 06:12
-
Hasil Man City vs Brighton: Gol Bersejarah Haaland Terasa Hambar
Liga Inggris 8 Januari 2026, 06:08
-
Man of the Match Fulham vs Chelsea: Harry Wilson
Liga Inggris 8 Januari 2026, 06:01
-
Hasil Barcelona vs Athletic Club: Pesta Gol, Blaugrana ke Final
Liga Spanyol 8 Januari 2026, 05:38
-
Hasil Burnley vs Man United: Dua Gol Benjamin Sesko Warnai Debut Darren Fletcher
Liga Inggris 8 Januari 2026, 05:31
LATEST EDITORIAL
-
Peringkat 9 Manajer Manchester United Setelah Sir Alex Ferguson, Siapa Terbaik?
Editorial 7 Januari 2026, 13:52
-
4 Mantan Bintang Man United yang Pernah Jadi Pelatih Sementara di Old Trafford
Editorial 7 Januari 2026, 12:55
-
4 Pemain Gratis yang Bisa Direkrut Manchester United Musim Depan
Editorial 5 Januari 2026, 15:52
-
Prediksi Starting XI Chelsea di Bawah Liam Rosenior: Revolusi Taktik Dimulai
Editorial 5 Januari 2026, 15:25
-
7 Pemain yang Pernah Menangis Karena Jose Mourinho, Ada Cristiano Ronaldo
Editorial 5 Januari 2026, 13:58



















KOMENTAR