
Bola.net - Musim panas 2020, dunia masih dihantui sunyi pandemi. Stadion kosong, sorakan berganti gema kaki dan teriakan pelatih. Namun, di Estadio da Luz, harapan PSG menggema lebih keras dari biasanya.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sang raksasa Paris melangkah ke final Liga Champions. Dipimpin Thomas Tuchel, mereka datang bukan hanya membawa nama besar, tapi juga mimpi besar: trofi pertama di Eropa.
Akan tetapi, malam itu, mimpi tersebut hancur hanya karena satu sundulan. Kingsley Coman, putra Paris yang dibesarkan di akademi PSG, menjadi algojo bagi mantan klubnya. Skor 1-0 untuk Bayern Munchen. Air mata pun menggantikan selebrasi di kubu Les Parisiens.
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru seputar Liga Champions, kamu bisa join di Channel WA Bola.net dengan KLIK DI SINI.
Di Antara Asa dan Air Mata

Laga final itu tak hanya menjadi momen historis, tapi juga luka kolektif. PSG datang dengan kekuatan penuh—Keylor Navas kembali menjaga gawang, sementara trio Neymar, Angel Di Maria, dan Kylian Mbappe berdiri di barisan depan.
Pertandingan berlangsung sengit. PSG punya banyak peluang—tembakan Neymar yang diblok Neuer, sundulan Mbappe yang tak menemui sasaran. Namun, seperti kisah klasik sepak bola, dominasi bukan jaminan kemenangan.
Gol Coman pada menit ke-59 menjadi pukulan telak. Ditinggal sang anak kandung, PSG justru tersungkur di hadapan publik global. Dan sejak malam itu, bayangan Lisbon terus membayangi langkah mereka di Eropa.
Lima Tahun Menunggu Penebusan

Kini, segalanya berubah. PSG kembali ke final Liga Champions, lima tahun sejak tragedi di Lisbon. Kali ini, bersama pelatih Luis Enrique, mereka akan menghadapi Inter Milan di Allianz Arena pada 1 Juni 2025.
Jalan menuju final tak mudah. Namun, mereka berhasil melewati Arsenal dengan agregat 3-1. Gol dari Dembele, Fabian Ruiz, dan Hakimi memastikan tiket final untuk sang penguasa Ligue 1.
Ini adalah final kedua mereka dan trofi pertama masih belum juga digenggam. Namun, semangat mereka kini tak lagi sekadar ambisi. Ini tentang menuntaskan luka yang tertinggal di Portugal.
Paris yang Tak Lagi Sama

Berbeda dari 2020, PSG kali ini datang dengan karakter baru. Tak lagi hanya mengandalkan bintang, melainkan sistem dan skuad yang penuh pejuang. Enrique membentuk tim yang lebih terorganisir, lebih sabar, dan lebih matang secara mental.
Fabian Ruiz jadi otak lini tengah, sementara Hakimi menjelma mesin serangan dari sisi kanan. Di bawah mistar, Gianluigi Donnarumma tampil meyakinkan menggantikan Navas yang kini tinggal kenangan.
Lima tahun lalu, PSG adalah tim yang masih belajar. Kini, mereka adalah tim yang haus pembuktian. Bukan hanya untuk sejarah, tapi untuk menghapus trauma yang menempel sejak malam di Lisbon.
Akhir Pencarian Panjang?

Final melawan Inter bukan hanya laga pamungkas musim ini. Bagi PSG, ini juga bisa menjadi akhir dari pencarian panjang yang penuh tikungan dan jebakan emosional.
Jika mereka menang, sejarah akan menuliskan Paris Saint-Germain sebagai juara Eropa. Sebuah narasi yang selama ini hanya menghampiri, tapi tak pernah benar-benar tinggal.
Namun, jika kalah, luka Lisbon akan punya pasangan. Dan PSG harus kembali berjalan, membawa beban dua kegagalan yang terlampau dekat, tapi tetap terasa jauh.
Baca Artikel-artikel Menarik Lainnya:
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Arsenal Tersingkir dari Liga Champions, Lalu Apa Selanjutnya?
Liga Inggris 8 Mei 2025, 17:30
-
5 Pemain yang Pernah Membela PSG dan Inter Milan
Editorial 8 Mei 2025, 15:21
LATEST UPDATE
-
Prediksi Inter vs Bologna 5 Januari 2026
Liga Italia 4 Januari 2026, 02:45
-
Juventus vs Lecce: Pemain Terbaik dan Terburuk di Allianz Stadium
Liga Italia 4 Januari 2026, 02:37
-
Man of the Match Juventus vs Lecce: Wladimiro Falcone
Liga Italia 4 Januari 2026, 02:27
-
Hasil Sassuolo vs Parma: Jay Idzes Gagal Bantu Neroverdi Raih Poin Penuh
Tim Nasional 4 Januari 2026, 01:13
-
Prediksi Man City vs Chelsea 5 Januari 2026
Liga Inggris 4 Januari 2026, 00:30
-
BRI Super League: Kuota Penonton Persik vs Persib Dibatasi
Bola Indonesia 3 Januari 2026, 22:44
-
Prediksi BRI Super League, Bali United vs Arema FC 4 Januari 2026
Bola Indonesia 3 Januari 2026, 22:31
-
Prediksi Real Madrid vs Real Betis 4 Januari 2026
Liga Spanyol 3 Januari 2026, 22:15
-
Prediksi Fulham vs Liverpool 4 Januari 2026
Liga Inggris 3 Januari 2026, 22:00
-
Prediksi BRI Super League, PSIM Yogyakarta vs Semen Padang 4 Januari 2026
Liga Inggris 3 Januari 2026, 21:35
-
Prediksi BRI Super League, Persis Solo vs Persita 4 Januari 2026
Bola Indonesia 3 Januari 2026, 21:10
LATEST EDITORIAL
-
3 Kandidat Pengganti Enzo Maresca di Chelsea
Editorial 1 Januari 2026, 13:40
-
5 Pemain Terbaik Real Madrid di 2025: Mbappe Memimpin
Editorial 31 Desember 2025, 15:58
-
6 Calon Suksesor Pep Guardiola di Manchester City
Editorial 30 Desember 2025, 13:10
-
6 Pemain yang Bisa Tinggalkan Man United pada Jendela Transfer Januari 2026
Editorial 30 Desember 2025, 12:43

























KOMENTAR