
Bola.net - Manajer Tim Red Bull KTM Ajo, Aki Ajo, dikenal sebagai sosok bertangan dingin yang telah sukses mengorbitkan banyak nama besar di MotoGP. Berkat pengalamannya, ia pun berprinsip tak mau membanding-bandingkan kemampuan para pembalap dengan satu sama lain. Hal ini ia sampaikan lewat Speedweek, Minggu (19/12/2021).
Ajo telah menurunkan timnya di Grand Prix sejak 2001, pertama kali di GP125. Timnya pun berkembang pesat dan kini menjadi salah satu tim prestisius di Moto3 dan Moto2. Ia mengorbitkan banyak juara dunia, dan juga pembalap dengan nama-nama besar. Salah satunya Marc Marquez, yang menjuarai GP125 2010 di atas motor Derbi.
Nama lain yang pernah dibimbing Ajo di antaranya Mika Kallio, Mike di Meglio (juara GP125 2008), Dominique Aegerter, Sandro Cortese (juara Moto3 2012), Johann Zarco (juara Moto2 2015 dan 2016), Danny Kent, Luis Salom, Jack Miller, Brad Binder (juara Moto3 2016), Miguel Oliveira, Jorge Martin, dan baru-baru ini Remy Gardner, Raul Fernandez, serta Pedro Acosta.
Gardner memang sukses jadi juara Moto2 2021, namun Fernandez dan Acosta justru jadi dua rider yang lebih disorot. Pasalnya, meski jadi runner up Moto2, Fernandez punya performa yang lebih meledak-ledak dan konsisten ketimbang Gardner, sementara Acosta sukses jadi juara Moto3 pada musim debutnya, dalam usia 17 tahun.
Kejutan Raul Fernandez dan Pesan untuk Pedro Acosta

Ajo mengakui, sejak awal dirinya sudah yakin Fernandez punya talenta istimewa. Namun, ia kaget melihat rider Spanyol itu menjalani musim debut di Moto2 dengan 12 podium, 8 kemenangan, dan 7 pole. Ia pun tercatat sebagai debutan dengan jumlah kemenangan terbanyak di Moto2, mematahkan rekor Marquez (7) pada 2011.
"Kami tahu Raul punya potensi besar. Namun, tak seorang pun memperkirakan musim balap seperti ini. Raul butuh waktu pada awal 2020 untuk membiasakan diri di tim Moto3 kami dan menunjukkan balapan-balapan yang solid. Namun, ia bekerja sangat baik pada akhir musim dan ia meneruskan level itu di Moto2 musim ini," ujar Ajo.
Pria asal Finlandia ini juga takjub pada Acosta. Namun, Ajo memperingatkan bahwa El Tiburon de Mazarron harus tetap merendah, karena ada kalanya rider yang gemilang saat muda justru kesulitan saat dewasa. Contohnya Fabio Quartararo, yang gemilang di CEV Moto3, tapi terseok-seok di Moto3 dan Moto2 sebelum garang lagi di MotoGP.
"Pedro menunjukkan hal yang sangat spesial. Jika lihat rider seperti Marc, Fabio, dan Pedro, Anda lihat perbedaan di banyak area. Pada masa belia, ketiganya terbukti spesial. Tapi saat dewasa, ada yang langsung cepat, ada yang butuh waktu lebih lama dalam meraih sukses. Karena itu, tak adil membanding-bandingkan mereka," lanjut Ajo.
Pedro Acosta Paling Mirip Marc Marquez

Jika bicara soal Quartararo, Fernandez, dan Acosta, Ajo mengakui bahwa Acosta lah yang paling mirip dengan Marquez. Ia bahkan menyebut bahwa Acosta mengingatkannya pada rider-rider masa lalu. Ia tak terlalu mempedulikan hal-hal yang terjadi di luar trek, tak seperti Quartararo yang punya karakter flamboyan.
"Saya mungkin melihat lebih banyak kemiripan antara Marc dan Pedro. Pedro punya pola pikir 'old school' tertentu, dan ia tampak sangat dewasa dalam usianya yang muda. Mungkin ia bahkan lebih dewasa ketimbang Marc ketika usia mereka sama," tutur pria yang juga eks manajer pribadi Maverick Vinales ini.
Di lain sisi, sepuluh kali juara Ice Racing Finlandia ini menyatakan bahwa perbedaan Fernandez dengan Marquez dan Acosta adalah fakta bahwa jalan kariernya saat belia tidaklah terlalu mulus, walau meraih hasil-hasil tak kalah mentereng di ajang-ajang junior seperti Moto3 Junior World Championship.
"Raul berbeda, karena jalannya ke puncak lebih bergeronjal dari jalan Marc dan Pedro pada masa lalu. Tapi Raul tak diragukan lagi talenta yang hebat. Ia bekerja dengan sangat profesional di trek bersama tim kami," tutup Ajo, yang musim depan menaungi Acosta dan Augusto Fernandez di Moto2, serta Jaume Masia dan Daniel Holgado di Moto3.
Sumber: Speedweek
Baca Juga:
- 'Kontrak Baru Pecco Bagnaia? Keputusan Tak Sepenuhnya di Tangan Ducati'
- Casey Stoner: Penghapusan Rumput Trek Bikin Rider MotoGP Makin Sembrono
- Ducati Sudah Jajal Motor MotoE di Misano, Siap Jadi Suplier Tunggal pada 2023
- MotoGP Rilis Serial Dokumenter Fabio Quartararo, Sorot Perjuangannya Jadi Juara
- Ayah Valentino Rossi Dilarikan ke Rumah Sakit Akibat Masalah Saraf
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Bimbing Marquez-Fernandez-Acosta, Aki Ajo: Jangan Suka Banding-bandingkan Pembalap
Otomotif 20 Desember 2021, 14:40
-
Honda Mengaku 'Tersesat' Tanpa Tuntunan Marc Marquez, Doakan Tak Absen Lagi
Otomotif 16 Desember 2021, 10:55
-
Marc Marquez Kehabisan Suara Gara-Gara Dukung Max Verstappen Juarai Formula 1 2021
Otomotif 13 Desember 2021, 16:10
-
Alex Marquez: Semoga Marc Pulih Agar Honda Tak 'Tersesat'
Otomotif 1 Desember 2021, 16:15
-
Fabio Quartararo: Gelar Saya Tetap 'Sah' Meski Marc Marquez Belum Pulih
Otomotif 30 November 2021, 15:25
LATEST UPDATE
-
Gol Dianulir, Penalti Dibatalkan, Napoli Murka: Ini Memalukan!
Liga Italia 23 Februari 2026, 08:27
-
Drama Mac Allister di Menit 90+7: Liverpool Pecahkan Rekor Gol Larut Premier League
Liga Inggris 23 Februari 2026, 08:15
-
Inspirasi Kemenangan Arsenal itu Bernama Victor Gyokeres
Liga Inggris 23 Februari 2026, 08:01
-
Nasib Sial AC Milan di San Siro
Liga Italia 23 Februari 2026, 06:12
-
Runtuhnya Rekor Unbeaten AC Milan di Tangan Parma
Liga Italia 23 Februari 2026, 06:09
-
Rapor Pemain Barcelona vs Levante: Cancelo Gemilang, De Jong Memukau
Liga Spanyol 23 Februari 2026, 05:31
-
Marah-Marah Saat Diganti, Lamine Yamal Malah Dapat Pujian dari Hansi Flick
Liga Spanyol 23 Februari 2026, 05:26
-
Liverpool Menang Sih, Tapi Memang Main Buruk Lawan Nottingham Forest
Liga Inggris 23 Februari 2026, 05:18
LATEST EDITORIAL
-
6 Calon Pengganti Casemiro di Manchester United: Siapa Pewaris Tahta Gelandang Bertahan?
Editorial 20 Februari 2026, 00:00
-
7 Pemain yang Tenggelam Usai Pindah Klub Musim 2025/2026: Masih Ingat Darwin Nunez?
Editorial 19 Februari 2026, 23:35
-
Dari Eks Chelsea hingga Barcelona: 5 Pemain yang Pensiun di 2026
Editorial 16 Februari 2026, 23:25
-
5 Transfer Ideal untuk Michael Carrick Jika Jadi Manajer Permanen Manchester United
Editorial 16 Februari 2026, 23:09






















KOMENTAR